Kamis, 31 Maret 2016

IN MEMORIAM FRANCISKA MARIA

Setiap orang punya caranya tersendiri untuk berduka.

Proses jatuh bangun dan banyaknya kehilangan yg pernah saya hadapi mengajarkan bahwa, untuk bisa move on lalu menerima keadaan adalah dengan menuliskannya lalu saya hapuskan semua tulisan tentang segala hal hal yang membuat saya merasakan kehilangan itu.


Namun, kehilangan kali ini, amat sayang jika harus saya tuangkan dalam berlembar lembar halaman lalu saya leburkan begitu saja.

Saya memilih menuliskannya disini, untuk kelak, suatu waktu nanti,
Sebuah catatan kehidupan menjadi kenangan yang baik. Riwayat yang baik. Sebuah kebanggaan atas kehidupan.

Awal Maret 2012

setelah 6minggu saya pontang panting beradaptasi memiliki bayi (yang tangisannya bukan bayi biasa) di Kota yang baru, menyesuaikan diri dengan jadwal kuliah, jadwal mengajar, dan memerah ASI, produksi drop plus kondisi LDM, Satu sms saya kirim kepada kontak konselor yg ada di Jogja, Ciska.
Kami tidak bisa bertemu langsung karena waktu itu Mbak Ciska baru melahirkan juga. Konseling dilakukan by phone.

Namun, meski hanya bisa by phone, saya mendapatkan pandangan baru tentang skala prioritas ketika memiliki bayi dan ketika sudah memutuskan menyusui maka tidak bisa dilakukan setengah setengah. Itu pesan Mbak Ciska.

Karena saya tidak mau setengah setengah juga, Awal November 2012 saya ikut Pelatihan Konselor Menyusui (PKM) yang diadakan oleh SelASI di Kota Solo. Dengan resiko, harus PP Jogja Solo. Berangkat pagi buta demi datang tepat waktu, pulang malam hari.
Tujuannya ; nyari ilmu jangan setengah setengah.

Awal November 2012
Tatap Muka Pertama

Pertemuan pertama kami di RS.PKU Muhammadiyah Solo. Pada hari terakhir PKM dimana Mbak Ika (Minka) yang menjadi fasilitator kelompok saya & Bude Dhani juga sebagai fasilitator melakukan praktik konseling serta bakti sosial.

Selepas penutupan acara PKM, kami pulang dengan kereta yg sama ke Jogja, gerbong yang sama. Prameks terakhir ke Jogja malam itu.
Meski saya masih segan dan malu berbicara banyak, tetapi dari pembicaraan singkat di kereta ini yg membuat saya bertekad menyusui anak saya sampai dia menyapih sendiri.

Saat itu saya pikir Mbak Ciska sama jaimnya dengan Minka (meski akhirnya tahu kenapa selama PKM, Minka cemberut melulu :-P hehehe :-* Minka) dan Budhe Dhani yg sangat heboh... Tapi nampaknya serem (ah, Budhe Dhani Gak akan baca catatan ini kok.. *celingukan) membuat saya malu malu bercerita tentang kegelisahan saya meninggalkan Zidane yg waktu itu baru pulang dari opname, tapi harus saya tinggal untuk mengikuti PKM,
Sementara cuti untuk ikut PKM juga sudah saya ajukan jauh jauh hari, (apalagi, jumlah yg saya bayarkan untuk ikut PKM waktu itu juga tidak sedikit untuk ukuran kantong mahasiswi macam saya)
Belum lagi harus PP Jogja Solo Setiap hari selama 5hari, nyampe Jogja jam10 malam, jam3 pagi sudah harus siap siap lagi membangunkan Zidane untuk saya titipkan di guru daycare nya sementara saya mengejar kereta pertama ke Solo.

Waktu itu, Mbak Ciska cuma bilang
"Anak, bagaimana pun sayangnya kita, harus disiapkan menghadapi apapun yg terjadi. Kita tidak selalu ada untuk anak. Dan hanya dengan memberikan ASI lah satu satunya bekal dasar yg bisa diberikan seorang Ibu kepada anaknya yg tidak dapat tergantikan oleh apapun juga selain pendidikan usia dini yg tepat". Hal ini membuat saya lebih percaya diri untuk belajar bagaimana mengajarkan anak menjadi mandiri meski saya disebut banyak pihak adalah "ibu yang tega" karena mendidik kemandirian pada Zidane bahkan sejak Zidane masih berusia -/+ 1 tahun.

Saya tentu saja sependapat dengan Mba Ciska, terutama ketika saya masih suka up and down kalau dapat kalimat "Ya ampun, masih bayi juga. Turutin aja, pelit banget sih?" dari orang lain ketika saya menolak memberikan apa yang Zidane mau saat dia tidak berperilaku baik.
Setelah bertemu langsung Mbak Ciska, saya semakin percaya diri untuk menutup telinga dari omongan orang tentang metode belajar mandiri ini.

Yep, pola asuh yang saya terapkan memang sempat banyak di kritik karena saya di anggap terlalu cepat mengajarkan konsistensi dan kemandirian pada Zidane. "wong masih kecil loh.." sering kali kalimat itu saya terima.
Rupanya Mbak Ciska juga sempat mendapat kalimat itu.

Namun, ketika orang melihat hasil bagaimana anak usia 4th bisa mengutarakan pendapatnya, bisa punya kemandirian dan kemampuan berkomunikasi secara dewasa, orang akan melupakan penolakan dan cibiran mereka atas pola yg diterapkan.

Apa yang Buncis tanamkan, terlihat dalam kedewasaan duo L, Laras dan Lakhes.

Terjerumus dan Dijerumuskan

Sepulang dari PKM itulah saya berfikir bagaimana mengaplikasikan ilmu yg saya dapatkan selama 5 hari secara terstruktur, yaitu bergabung di kepengurusan AIMI, meski sudah lama saya tahu tentang keberadaan AIMI.

Jogja, Kota memang tempat saya belajar. Tetapi, dari kota ini saya belajar banyak hal diluar akademik. Ada banyak pelajaran kehidupan. Tentang organisasi, komunikasi, bisa belajar tentang AIMI juga di Jogja atas banyak kesempatan yg diberikan Buncis (setelah bergabung di kepengurusan AIMI Kalsel, saya ikut memanggil beliau dengan panggilan BunCis). Buncis juga menawarkan ikut ToT untuk pengajar KE dengan teman teman AIMI Jogja,
Menawarkan ToT untuk pengajar KE MPASI bareng teman teman rintisan AIMI ranting Bantul (waktu itu belum jadi Ranting). Sering juga diajak gabung terkait bidang konseling. Berharap, ketika kembali ke Kalsel, saya bisa segera saya membagikannya ke teman teman di Kalsel.

Singkatnya, Buncis-lah yang menjerumuskan saya ke AIMI.

Kami baru 4th saling kenal, tapi sudah  banyak inspirASI yang dibagikan oleh BunCis untuk saya.
Masih ada rencana dan project menambah konselor menyusui di kalsel yang belum sempat kami realisasikan, tapi beliau pasti tahu, saya dan teman-teman di AIMI Kalsel bisa meng-goalkan target ini.

Memang tidak akan ada lagi kata kata  "Gue bilangin Ica lu, Nyun!!"
Atau 
"Eh, Nyun, awas Gue laporin Ica, Lu.."
Memang tidak akan terdengar lagi.

Tapi masih ada ilmu, inspirasi dan.. tentu saja, semangat edukASI yg terus akan hidup meski satu kehidupan telah kembali pada Pemilik Hidup.

Ada banyak cara berduka

saya lebih memilih mengenang kehidupan ini dalam sebuah catatan.
Untuk konselor pertama yg mendampingi saya.
Untuk konselor menyusui pertama yang saya kenal.
Untuk salah satu guru dalam proses saya menjadi konselor serta menjadi Ibu dengan status LDM

saya memilih menuliskannya agar seperti Pak Habibie, bisa tetap melanjutkan hidup kembali dalam kenangan yg indah dan semangat baru dengan seragam AIMI

Perjuangan mengASIkan Indonesia masih panjang.
Perjuangan edukASI tidak akan pernah berakhir.
Namun satu hal, BunCis.. Saya yakinkan, bersama teman teman di AIMI, akan semakin banyak tim AIMI di setiap provinsi yang memakai seragam kebanggaanmu ini.

Dan Teman-teman AIMI Jogja akan bangkit jauh lebih kuat karena semangatmu selalu hidup di dada AIMIers

Desember 2015,
Pertemuan terakhir.

Dulu Pertemuan pertama kita terjadi di Kota Solo.
Di Stasiun Balapan, kita pulang ke Jogja bersama dalam satu gerbong kereta.

Percakapan terakhir kita, juga di Kota Solo.
Waktu itu saya hanya mengantarmu ke Stasiun Purwosari, pake motor & helm pinjeman teman AIMI solo, di iringi langit mendung dan gerimis langit Kota Solo.

Dan kemarin..
saya harus mengantarmu kembali pada Sang Pemilik Kehidupan dibawah derasnya kucuran hujan langit Donokerto, Sleman, Yogyakarta.

Selamat Jalan BunCis

Sudah engkau tunaikan tugasmu untuk Duo-L
Seperti pesan Pak Dedy, Susuilah bayi-bayi lain di surga.

dan bagiku, engkau hanya ingin pergi untuk menyusui Baby Dyca

#Gerbong6
#KERETAJAKATINGKIR

*dari catatan status facebook saya untuk mengenang Franciska Maria, Ketua Cabang (Daerah) pertama AIMI Jogja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar