Kamis, 23 Januari 2014

IBU ASI, IBU PEMBELAJAR

Semua ibu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga dan buah hatinya. Kondisi dan situasi setiap ibu berbeda, informasi dan situasi keluarga yang berbeda, menyebabkan standar konsep terbaik tentunya berbeda. 

Namun, sebuah pilihan yang dipillih Ibu saat memutuskan menyusui sesuai kodrat atau memilih untuk tidak adalah pilihan ibu. 
MENGENAL ASI 
Awal – awal kehamilan, saya hanya ingin bahwa kelak nanti saya harus menyusui. Ketika kehamilan saya berusia 6 bulan, saya membaca sebuah tabloid yang memuat tentang Ibu Andriana Chaizir yang menjadi ketua AIMI Jawa Barat, dari info di tabloid ini saya mengenal AIMI. Sayang, karena waktu itu saya banyak bertugas di lapangan, saya tidak sempat searching lebih banyak. Saya hanya mengirimkan aplikasi untuk menjadi member tanpa menambah informasi tentang Asosiasi Ibu Menyusui ini dengan lebih jauh. Ada penyesalan saat ini. Karena meski IMD dan menyelesaikan ASI sampai 2 tahun dan masih dalam tahap menyapih dengan cinta, tetap saja ada yang kurang dalam mengatasi masa – masa awal menyusui. Menyesal tidak belajar lebih rajin tentang ASI sejak awal. Menyesal tidak belajar lebih awal. 
BERTAHAN UNTUK ASI
Saat usia Zidane 2bulan 20hari, saya harus berangkat kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi yang sudah tertunda selama proses melahirkan. Perjuangan saya dimulai saat keluarga suami meminta Zidane di tinggal di Solo, agar saya bisa konsentrasi dengan studi di Yogyakarta. Bahkan saya diminta berhenti bekerja. Kalimat “ASI Eksklusif? Ah, Teori!!” sering saya dapatkan. Memang niat keluarga baik, tapi saya ingin memberikan ASI dengan “keras kepala” dan menjadi agak emosional ingin membuktikan bahwa jika ibu – ibu di tempat lain bisa memberikan ASI pada bayinya, maka saya pun bisa. Sempat ada perdebatan panjang dengan suami tentang keinginan saya memberikan ASI Eksklusif. 
Butuh sebuah kekuatan untuk berkata “tidak” dengan keputusan dan permintaan keluarga suami. Butuh banyak tekad untuk tetap memberi ASI dalam kondisi sedih dan tanpa dukungan. Pilihan yang ditawarkan adalah tetap bekerja dan kuliah dengan memberikan sufor atau berhenti bekerja untuk bisa memberi ASI. Tapi semua tantangan itu justru melecut saya agar bisa menyusui sampai usia 2 tahun. Semua tantangan yang membuat saya bertekad harus belajar menjalani menjadi ibu menyusui yang tetap bekerja dan mampu menyelesaikan studi. Saya harus belajar. Bismillah. 
Pumping Dimana Saja
Dengan tekad bulat, saya akhirnya tetap menjalani kuliah di pagi hari dan kadang – kadang sore hari. Pukul 14.30 s.d 20.00 WIB saya harus tetap mengajar karena sebagai pengajar kontrak yang memiliki kewajiban memenuhi minimal jam mengajar dalam setiap bulannya. Saat mulai kembali bekerja dan kuliah saya tidak memiliki stok ASIP karena semua stok mencair saat proses kepindahan dari Kalimantan ke Yogyakarta. Akhirnya saya harus kejar tayang memenuhi kebutuhan ASIP. 
Untuk memenuhi kebutuhan ASIP Zidane saat saya tinggalkan selama kurang lebih 13 jam setiap hari, yang saya lakukan hanya pumping setiap kali ada jeda waktu istirahat mengajar, jeda pergantian jam kuliah, bahkan bisa tiap 1 jam sekali saya paksakan pumping. Saya pumping di dekat wastafel toilet kampus (yang memang cukup bersih), karena toilet perempuan memang satu – satunya tempat tertutup khusus perempuan. Saya juga pernah pumping di mushola stasiun Gambir (Maret tahun 2012, saya tidak menemukan ruang Laktasi di Stasiun Gambir) ketika harus ke Jakarta. Karena lamanya perjalanan saya memilih berpisah dari rombongan dan naik kereta. Selama di perjalanan, saya pumping di dalam kereta bertutupkan selimut. Di Gedung Kemendiknas, saya sempat meminta izin untuk pumping. Bahkan Ibu Kepala Bagian dengan semangat memberikan fasilitas air hangat dan ruang kerja beliau untuk saya pumping. Bahkan beliau menceritakan tentang perjuangan putrinya yang seorang reporter berita untuk tetap pumping dimana – mana. Subhannallah, saya tidak sendirian, saya belajar bahwa jika kita melakukan dengan niat baik, Tuhan memudahkan jalan saya untuk tetap menyusui. 
Ketika harus bertugas ke Bangka Belitung selama 1 minggu, Zidane sudah berusia 19 bulan, beberapa pihak menyarankan saya sekalian menyapih saja. Saya berfikir, untuk apa di sapih jika ASI saya masih cukup? Yah, meski Cuma pumping 2x sehari dan coolerbox saya sempat dibongkar saat transit di Cengkareng, tapi 15 botol ASIP Beku yang saya bawa diizinkan masuk kabin dan sampai di Yogyakarta setelah 15jam perjalanan dari Koba, masih ada titik beku bahkan ada yang masih dalam kondisi beku. Alhamdulillah. 
Saat di bandara Suvarnabhumi, Bangkok, saya sempat dicekal karena dalam ransel saya berisi botol – botol ASIP beku dan icegel. Petugas laki – laki sempat tidak percaya dan memandang saya dengan aneh kenapa saya harus membawa susu dan berbungkus bungkus icegel. Saya bahkan harus menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan dan memperagakan bahwa yang saya bawa adalah ASI yang saya perah. Setelah penjelasan panjang lebar dengan petugas dan butuh negoisasi juga dari petugas perempuan (yang kebetulan, lebih mengerti bahasa inggris) akhirnya saya bisa pulang dengan membawa botol – botol beku ASIP saya. Oleh – oleh berharga untuk Zidane. Dari sini, Saya belajar bagaimana perjuangan para ibu yang memberikan ASI tapi harus berjauhan dengan buah hatinya. Saya belajar berkomunikasi, dengan komunikasi penjelasan dan penyampaian dasar hukum yang tepat akan banyak orang yang mendukung ibu menyusui memberikan ASI.
Fasilitas Menyusui
Ditempat kerja, saya harus pumping di musholla wanita, sempat jadi tontonan siswi – siswi yang penasaran bagaimana proses ASI di pumping. Dari sini, teman – teman pengajar perempuan yang lain mengetahui tentang ASI Eksklusif. Alhamdulillah, saya bisa memprovokASI teman – teman lain untuk memberikan ASI Eksklusif. Saya harus belajar lagi tentang ASI agar dapat memberikan informasi yang tepat untuk teman – teman. Saya belajar, bahwa dukungan tidak selalu dari keluarga, tapi juga dari rekan – rekan kerja. 
Meski sempat menjadi tontonan di musholla, hikmahnya adalah, setelah pimpinan melihat perjuangan saya pumping sana sini, pimpinan menyediakan satu ruangan untuk pumping, memang belum seperti ruang menyusui yang standar, tapi sudah cukup untuk teman – teman yang mau pumping dengan lebih privasi dan nyaman. Alhamdulillah.

===========================================================================
SAAT ASI BERHENTI BERPRODUKSI 
Tidak Ada Stok Asip 
Saya sudah mulai pumping saat awal – awal kelahiran, membiasakan Zidane minum dengan gelas, sendok, cupfeeder. Ternyata, karena salah manajemen ASIP, begitu kami pindah ke Yogyakarta dan belum dapat kontrakan sementara di tempat kos tidak ada kulkas, ASIP saya mencair semua dan sebagian besar harus dibuang. Meski menangis melihat banyaknya ASIP yang terbuang, saya bertekad harus belajar lagi memanajemen ASIP yang benar agar ASI yang sangat berharga untuk Zidane tidak terbuang percuma lagi. Saya butuh belajar memanajemen ASIP. Untunglah ada AIMI. Belajar, belajar dan belajar lagi. 
Asi Menyusut dan Pilihan 
Ternyata tekad bulat saja tidak cukup. Saya tidak belajar pumping dengan teratur. Akibatnya, ketika saya kelelahan karena jadwal kuliah yang padat, tugas kuliah yang menumpuk, jadwal mengajar dari pukul 07.00 pagi s.d 20.00 WIB, bahkan sempat kecelakaan motor, belum lagi urusan asisten rumah tangga dan banyak hal lain yang harus saya hadapi sendirian tanpa didampingi suami secara langsung membuat produksi ASI saya menyusut drastis. Selama seminggu ASI yang saya pompa hanya dalam bentuk tetesan. Bahkan 2 hari terakhir ASI tidak keluar. Hari ke – 7, Stok di kulkas bahkan cuma 4 botol ukuran 80ml, dipompa sudah tidak keluar. Usia Zidane waktu itu baru 5 bulan, masih 1 bulan lagi menuju 6 bulan. 
Saya sempat mencari donor ASI. Tapi disini saya belajar bahwa donor ASI hanya dilakukan di saat yang benar – benar urgent dan situasi darurat. Suami yang panik dengan kondisi ini, apalagi karena posisi yang berjauhan (menjalani Long Distance Relationship/LDR) membuat suami sudah menyarankan sufor. Tidak. Jika seorang ibu yang sudah lama tidak menyusui ternyata masih bisa menyusui kembali. Maka saya harus belajar dengan benar bagaimana menyusui kembali. Saya harus belajar lagi dan lagi. Saya HARUS belajar tentang relaktasi. 
Relaktasi 
Setelah kepanikan yang semakin membuat tetesan ASI saya semakin sedikit, saya disarankan menghubungi Mbak Cisca dari AIMI Jogja. Meski cuma konseling via sms, cukup banyak info yang saya dapatkan dari beliau. Dari Mbak Cisca saya belajar bagaimana relaktasi. Saya juga searching tentang bagaimana relaktasi dilakukan, membuka kembali tabloid lama yang memuat tentang relaktasi dan akhirnya belajar melakukan relaktasi sendiri, mengalahkan kuliah dan pekerjaan demi relaktasi. 
Alhamdulillah, akhirnya saya belajar bahwa ASI ternyata benar – benar permainan otak. Produksi ASI adalah gambaran kondisi tentang fisik dan psikologis ibu. ASI diproduksi dari kebahagiaan dan cinta seorang Ibu pada anaknya. Jika ibu menyusui bahagia dan merasakan hormon cinta, pasti ada ASI disana.

Tounge Tie 
Ketika saya masih harus kejar tayang dengan stok ASIP, saya mendapat istilah baru, Tounge Tie. Kelelahan, banyaknya deadline sampai memutuskan memilih give up terhadap studi demi menjaga psikologis saya agar produksi ASI tetap terjaga. Terus memperbaiki posisi pelekatan setiap kali menyusui. Tapi tetap saja harus kejar tayang karena sepertinya Zidane tidak pernah merasa kenyang. Sampai usia 5bulan, Zidane termasuk bayi yang sangat rewel, tangisannya bisa kedengeran sampe satu komplek. Belum pola tidurnya yang selalu terjaga di setiap pukul 01.00 dan pukul 03.00 pagi. Sempat frustasi dan hampir menyerah. Kembali bisikan – bisikan tentang ASI yang tidak mengenyangkan dan isikan tentang sufor masuk ke telinga. Tapi Tuhan tidak akan menutupi semua ilmu dari seseorang yang mau berusaha mencari kan? 
Saat Zidane berusia 1 tahun, setelah membaca dokumen di grup AIMI tentang tounge tie saya baru mengetahui ternyata Zidane mengalami tounge tie atau tali lidah pendek. Tali lidah pendek ini membuat posisi pelekatan bayi tidak sempurna dan ASI yang dihisap bayi tidak maksimal. Meski Zidane termasuk tounge tie tipe 4, tetap saja mempengaruhi posisi pelekatan. 
Ternyata saya harus belajar lagi mengatasi Tounge Tie. Sempat menyesal kenapa saya mengabaikan kecurigaan kenapa dibawah lidah Zidane ada jaringan yang mengikat dasar lidah dengan bagian dasar mulutnya. Beruntungnya, tounge tie yang dialami Zidane bukan termasuk parah (tipe 4), bahkan dokter tidak menyarankan insisi. Tapi ternyata hal ini menjawab permasalahan kenapa Zidane selalu terlihat tidak puas menyusu meski pelekatan sudah benar. Tuhan, Maafkan saya yang ternyata sudah takabur dengan ilmu yang terbatas. Saya tidak segera mencari tahu kenapa.
========================================================================
BELAJAR, BELAJAR DAN BELAJAR 
Belajar Tentang Asi 
Ditempat saya bekerja, baru saya yang pumping dimana – mana demi ASI Eksklusif. Karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan saya berpindah dari satu unit ke unit yang lain di se-antero Yogyakarta, Sleman, Bantul dan Wates. Hal ini membuat teman – teman mulai sering bertanya kepada saya tentang ASI. Ada yang mengganjal ketika saya harus menjawab sesuatu yang saya tidak tahu dengan benar. Saya lebih banyak searching. Waktu itu saya masih kesulitan menemukan dokumen – dokumen tentang ASI. Sampai suatu saat ada info tentang pelatihan konseling menyusui di Jakarta. Saya sudah akan mendaftar. Namun mempertimbangkan jauhnya tempat jika saya ke Jakarta dan Zidane yang masih berusia 1tahun, saya berharap ada pelatihan dengan lokasi yang lebih dekat. 
Ikut Pelatihan Konseling Dengan Kartu Kredit 
Akhirnya saya mendapat info bahwa Bulan November dilaksanakan Pelatihan Konseling Menyusui 40 jam standar WHO di Kota Solo. Biayanya memang cukup mahal. Tapi sekali lagi saya butuh belajar tentang ASI. Nekat saya menggunakan kartu kredit untuk membayar biaya pelatihan, nyicil lagi. Tidak apa. Saya harus belajar dengan benar tentang ASI. Meski harus menggunakan kartu kredit. Bismillah dengan niat lah. 
Ketika Harus PP Joglo 
Meski harus pulang pergi Jogja – Solo setiap hari, berangkat pukul 4 subuh untuk menitipkan Zidane di penitipan dan demi mengejar kereta pukul 5 pagi untuk sampai tepat waktu di RS PKU Surakarta. Karena jika satu saja peserta datang terlambat, pelatihan tidak bisa dimulai. Bahkan saya beresiko tidak lulus dan harus mengulang. Ketika pulang, menunggu kereta yang sering terlambat, sampai di Jogja sudah pukul 10 malam, menjemput Zidane kembali dan menyiapkan untuk besok subuh lagi. Tidak apa, niat saya belajar. 
Minder Di Kelas 
Awalnya saya tidak berniat untuk menjadi seorang konselor. Niat saya mengikuti pelatihan ini memang untuk mengetahui ilmu yang benar tentang ASI. Namun begitu di kelas, peserta Pelatihan Konseling ini sebagian besar adalah tenaga kesehatan (nakes) yang memang berkecimpung dengan ibu – ibu menyusui. Dan tentunya linear dengan bidang keahlian mereka. Saya? Sudahlah jangan ditanya. Saya minder, pasti. Apa iya saya bisa jadi konselor? Saya bukan bidan, perawat apalagi dokter. Apa orang akan percaya dengan saya jika saya menyampaikan info tentang ASI? Ah, sudahlah tidak harus menjadi konselor. Yang penting saya belajar tentang ASI. Tapi begitu bertemu dengan Mbak Dhani Yuniarco saya mulai percaya diri. Begitu di bimbing langsung dengan Mbak Ika Isnaeni yang memiliki basic ilmu teknik tapi malah sibuk jadi bos katering. Saya percaya, semua ilmu bisa dipelajari. Jadi saya harus belajar terus. 
Sebanding Untuk Ilmu Yang Benar 
Mahal sekali hanya untuk ikut pelatihan menyusui? Itu kata beberapa teman. Benar, memang mahal. Tapi sangat sebanding dengan apa yang saya dapatkan. Saya bisa menyampaikan ilmu yang benar. Sebanding dengan perjuangan pulang pergi saya jam 4 pagi pulang sampe rumah jam 10 malam. sempat ketinggalan kereta. Harus kejar bus sana sini. Terdampar di Tirtonadi karena banyak bus terjebak macet oleh demo besar di Jawa Timur. Benar – benar sangat sebanding untuk ilmu yang sangat – sangat berharga. 
Open Minded 
Menjalin hubungan, menikah, hamil, memiliki anak, mendidik dan membesarkan anak adalah fase kehidupan seorang ibu. Seorang ibu laiknya seperti gelas yang setengah isi setengah kosong. Setengah isi dengan ilmu yang selalu dicari, diperbaharui, direvisi. Setengah kosong agar mampu menampung ilmu baru. 
Tak ada batas waktu akhir untuk belajar bagi seorang ibu. Selalu ada yang akan dipelajari seorang ibu untuk anak dan keluarganya. Setiap kejadian menjadikan ibu selalu belajar, belajar dan belajar untuk memberi yang terbaik. Selamat hari ibu untuk para Ibu yang mau terus belajar.

*tulisan ini saya ikut sertakan dalam lomba menulis pengalaman menyusui yang di adakan oleh AIMI Kalsel pada tahun 2013
*saya lakukan revisi dan upload di laman grup ASI For Baby Kalsel
*ini tulisan pertama yang saya upload kembali di laman blog saya setelah 10 tahun
*tulisan akan saya buat dalam versi pendek dan pecah menjadi beberapa catatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar