Jumat, 03 September 2010

Untuk Menjadi Gelas CAntik

Suatu waktu, Tanah liat mengeluh saat dia di ambil oleh pengrajin tembikar dari tempatnya yang nyaman di bagian lapisan tanah.

Tanah Liat dibanting-banting, diguyur air sampai menjadi adonan yang tepat untuk dibentuk menjadi satu bentuk.
Setelah adonan siap, Tanah Liat di taruh sang pengrajin ke tempat pencetakan tembikar yang berputar-putar tanpa henti mengikuti gerakan kaki sesuai keinginan sang Pengrajin... 


Tanah Liat menjerit-jerit kesakitan saat di putar2 sampai pusing dan muntah-muntah. Tanah liat berkali-kali bilang kepada Sang Pengrajin bahwa ia menyerah dan sudah tidak kuat lagi, namun Sang Pengrajin tidak pernah berhenti dan mendengarkan Tangisan Tanah liat.
"Tunggu saja lah.. Kau akan tau nanti" ujar Sang Pengrajin.

Setelah beberapa lama memutar, Sang Pengrajin akhirnya menghentikan putarannya, Tanah liat sudah berbentuk mug kecil coklat. Sang Pengrajin meletakkannya begitu saja di halaman. Tanah liat berfikir, Oh, semua ini sudah berakhir, karna berhari hari bahkan beberapa minggu kemudian pengrajin mengabaikannya berangin-angin di bawah naungan atap rumbia.

Ternyata dugaan Tanah Liat salah. Suatu hari, beberapa orang mengangkut teman-teman Tanah Liat ke sebuah tempat, dan sampai pada saat giliran Tanah Liat juga ikut di angkut ke sebuah bangunan yang sangat besar.

Bangunan itu ternyata adalah tungku yang sangat besar, Tanah Liat panik dan menjerit2, namun siapa yang mendengar jeritannya? Teman2nya pun ternyata juga bernasib sama. Ada yang terjatuh, menolak masuk ke dalam tungku raksasa itu, tapi nasib sang teman justru membuat Tanah liat ketakutan. Teman-teman Tanah liat yang memberontak jatuh itu ada yang retak, pecah, dan belah menjadi beberapa bagian, atau malah jadi serpihan2 kecil. Tanah liat melihat teman-temannya yang jatuh itu  malah di buang begitu saja oleh anak buah Sang Pengrajin dengan umpatan.

Tanah Liat akhirnya memilih pasrah memasuki kobaran api yang sangat panas dan membakar tubuhnya. Tanah Liat berdo'a bahwa dengan begini, semoga Tuhan memberikan kebaikan kepadanya, dan dia bisa menjadi manfaat untuk Sang Pengrajin atau siapapun nantinya.

Setelah larut dalam kesakitan, panas luar biasa, dan melalui do'a2 panjangnya, akhirnya perlahan api dalam tungku padam. Bara api yang tersisa membuat Tanah Liat memiliki harapan karna dia tidak terbelah. Ada beberapa temannya yang retak karena tidak tahan dengan panasnya api tungku.

Beberapa orang akhirnya mengangkat Tanah Liat ke luar dari dalam tungku, menaruhnya kembali dibawah naungan atap rumbia berangin-angin dan berkumpul kembali dengan teman-teman senasib yang masih bertahan. Tanah Liat berfikir, ini adalah akhir dari penderitaannya, karna sudah berhari-hari tak ada anak buah Sang Pengrajin yang meliriknya atau mengangkatnya. Hanya sesekali ada yang datang melihat-lilhat.

Suatu hari, datanglah  anak perempuan Sang Pengrajin yang mengangkat Tanah Liat dan membawanya ke halaman rumah Sang Pengrajin. Disana sudah berjejer gerabah-gerabah yang sudah cantik berwarna-warni. 

Tanah Liat tertegun melihat Gerabah dan keramik-keramik cantik itu berjejer disana. Tanah Liat melihat dirinya, cuma Tanah Liat coklat berdebu dari belakang rumah Sang Pengrajin.

Tanah Liat terkejut saat mengetahui anak si Pengrajin mulai memutar-mutarnya di tangan dan mengoleskan cat pada tubuhnya. Tanah Liat merasa perih saat lelehan Cat itu melumurinya. Tetapi lagi-lagi tak ada yang mendengar tangisan Tanah Liat. Anak Sang Pengrajin hanya bersenandung sambil mengulaskan kuas. Kembali Tanah Liat dia berdoa kepada Tuhan, memohon kebaikan untuk dirinya.

Kegiatan anak Sang Pengrajin akhirnya selesai. Tanah Liat di taruh di rak yang tinggi bersama deretan warna warni gerabah.

Tapi, penderitaan Tanah liat belum berakhir ternyata. Tanah Liat harus sekali lagi masuk ke dalam tungku, tapi anehnya Tanah liat tidak merasa semenderita waktu pertama kali masuk tungku. Tanah Liat merasa tungku kedua tidak terlalu panas. Apakah karena dia sudah pernah masuk ke dalam tungku pembakaran sebelumnya? Sehingga ketika proses pembakaran ini membuatnya lebih bisa bertahan?

Tidak terlalu lama, Tanah liat kembali dikeluarkan dari tungku dan tiba-tiba Tanah liat diguyur dengan cairan yang sangat panas, Tanah Liat menjerit kesakitan. Tapi menjerit pun percuma saja. Rasa sakit tak tertahankan itu tidak berkurang dengan jeritan.

Tanah liat kembali di taruh di atas rak, menangis terisak-isak. Saat ini, menangislah yang bisa dilakukan oleh Tanah liat.

Suatu hari, Sang Pengrajin datang. Tanah liat sudah bersiap-siap jika dia harus mengalami kesakitan lagi. Namun, Sang Pengrajin ternyata datang cuma untuk memindahkan Tanah liat ke sebuah lemari kaca besar.

Subhanallah... Tanah liat sungguh terkejut ketika Sang Pengrajin membawanya melewati lemari kaca. Sekilas Tanah liat melihat dirinya yang sekarang; Tanah liat yang dulu nyaman di lapisan tanah hidup dengan para cacing dan di anggap kotor, sekarang menjadi sebuah Mug Cantik berwarna warni, mengkilat, dan sama seperti keramik2 yang Tanah Liat pernah lihat waktu di cat dulu.

Tanah Liat sekarang berada di etalase toko Sang Pengrajin. Tanah liat merasa malu atas semua keluhannya kepada sang Pengrajin. Tanah liat juga merasa malu karena sudah berprasangka buruk saat Sang Pengrajin mengubahnya dari Tanah Liat tak berharga menjadi sebuah Mug yang cantik...

==============================================================
Aku membaca/mendengar cerita ini sekitar tahun 2004-2005, 5 atau 6 tahun yang lalu saat dalam kondisi terpuruk, hancur dan merasa sangat tidak berharga menjadi manusia.

Aku menuliskannya kembali dengan harapan tetap mengingat banyak pesan dalam cerita ini bahwa kehidupan adalah proses membuat kita menjadi mug cantik pada akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar