Minggu, 20 Desember 2020

PESAWAT

Koper biru yang saya tarik dengan setengah berlari terbanting begitu saja saat saya tertahan oleh dua petugas Avsec yang berjaga di depan garbarata.

Di ujung garbarata, pintu pesawat menutup perlahan. Melihat jalur pendek garbarata, saya memprediksi detik yang saya butuhkan untuk mencapai pintu pesawat yang masih setengah menutup. Ituuu prediksi kalau mau nekat menerobos dua petugas di depan garbarata dan berlari secepat mungkin menuju Mas Pramugara yang sedang menarik pintu pesawat. 

Saya menarik nafas dan melambaikan tangan pada pramugara sembari berusaha tersenyum meski masih tersengal-sengal. Setelah melompat dari taksi, melewati beberapa kali pemeriksaan, berlari menaiki eskalator sambal menjinjing koper seberat 20kg, lalu mencari gate yang tertera di boarding pass hasil check-in online 4 jam sebelumnya di atas bis Jogja-Surabaya yang tertahan di Madiun dini hari tadi. Okay, Bye Mas Pramugara, kita tidak berjodoh terbang bersama hari ini. Saya akan mencari kesenangan terbang bersama dengan pesawat dan kru yang lainnya.

Anehnya, saat itu, saya merasa baik-baik saja meski tersengal-sengal. Saya tertawa. Sepertinya saya mengalami kegilaan karena tertinggal pesawat di depan pintu garbarata. Tinggal selusinan Langkah lagi saya sudah mencapai pintu pesawat seharusnya. Tapi yah, itulah, saya malah tertawa. Apakah karena saya terlalu menyukai menaiki pesawat sehingga saat di tinggal pesawat pun saya masih bisa tertawa. Entah tertawa karena getir, entah tertawakarena menutupi rasa merana. Atau mungkin karena saya terlalu cinta.

Saya suka naik pesawat. Saya menyukai semua waktu terbang. Penerbangan pagi, siang, sore dengan atau tanpa sinar matahari. Terbang di cerahnya pagi, membuat saya berkesempatan melihat lingkaran warna seperti pelangi. Terbang siang hari memberikan saya kesempatan melihat lanskap bumi. Terbang di malam hari, melihat jajaran dan pola-pola cahaya yang terhampar di bawah seperti lampu komidi.

Saya menyukai terbang naik semua jenis pesawat. Air Bus, Boeing, MacDouglas, Pesawat Cassa, Pesawat Perintis, Pesawat Capung. Saya bahkan berani memimpikan naik pesawat sewaan milik suami Maia Estianty. Apalagi naik pesawat milik Ibu Susi. Saya benar-benar menyukai mimpi yang rasanya mustahil terjadi pada diri yang papa ini. 

Saya bersemangat naik hercules. Saya suka memperhatikan perilaku dan gaya para awaknya yang berseliweran di depan saya. Gagah dengan seragam hijau pudar mereka, sembari memikirkan apa jadinya kalau dulu suami lulus jadi taruna AU, ya? Apakah kami akan dipertemukan? Aih. Cuma naik hercules saja bisa membuat hati berdebar. Bising tak mengapa, asal bisa terbang gratis saja.

Apalagi saat naik pesawat VIP TNI AU. Saya berasa jadi Si Untung. Rakyat jelata, duduk di bersama keluarga sang perwira. Duh, begini rasanya menjadi pengawal raja.

Saya suka naik pesawat perintis karena biasanya terbang dengan ketinggian yang lebih rendah. Sehingga saya bisa melihat dataran dibawah sana, layaknya melihat google earth dalam versi real. Tetapi tentu saja saya suka naik pesawat perintis yang waras, bukan pesawat perintis yang baling-balingnya harus di putar manual ketika akan terbang. Menaiki pesawat DAS di tahun 90-an memang terlihat sangat mengkhawatirkan (dan menakutkan tentu saja). Tapi dengan begitu, saya menjadi lebih religius sepanjang penerbangan dengan membaca dzikir dan tak henti menyebut nama-Nya.

Saya suka naik pesawat perintis, karena itu artinya saya menuju surga tersembunyi yang hanya memiliki bandara perintis sepi dan unik, tempat yang penuh misteri, dan akan banyak ide cerita menanti. Mana tau saya bisa berpetualang seperti dalam pilem di tipi-tipi.

Saya suka naik pesawat komersil. Baik itu maskapai yang pelit bagasi, apalagi yang free bagasi sampai 25kg, plus dilayani ketika membawa kursi bayi. Entah itu kelas ekonomi, apalagi kelas bisnis sudah pasti. Entah duduk di samping jendela, di dekat lorong, atau malah kursi tengah dan terjepit. Saya bahkan menyukai toilet pesawat dibandingkan toilet bandara. 

Saya sebenarnya lebih suka tidur saat naik pesawat. Tetapi membaca majalah dari maskapai juga hal yang saya rindukan. Ada banyak liputan destinasi wisata atau sekedar tulisan motivasi semata. Saya bahkan mencatat poin ceritanya, bahkan satu artikel lengkap pernah saya ketik di HP Nokia N95 karena saking mengena. Saya suka membaca liputan wisata karena foto - fotonya membuat orang datang kesana. Sungguh, harga liputan di majalah ini sebanding dengan harga tiketnya. Oh, tentu saja, saya sebagai penumpang maskapai, juga ikut menyumbang untuk biaya perjalanan mereka. 

Kadang, saya juga bersedia menanggapi pembicaraan orang di sebelah saya meski hanya basa basi, karena kita tidak pernah tau, mengapa orang itu dengan saya bersisian nomor kursi. 

Tuhan menggerakkan tangan petugas untuk mengatur nomor kursi penumpang seperti ketika Tuhan mengatur jodoh melalui kekuatan feeling mak comblang. Bisa jadi, Tuhan menginginkan kita berkenalan dengan jodoh seperti di pilem. Bisa jadi, Tuhan memberikan saya kesempatan berkenalan dan memperoleh koneksi baru. Atau, bisa saja didudukkan Tuhan bersebelahan cuma karena orang itu sama-sama hanya ingin duduk dan ingin menikmati penerbangan dalam diam, sama seperti saya.

Penumpang yang duduk dalam satu deret kursi seperti karma bekerja. Saya pernah mendapatkan teman perjalanan yang tidak menyenangkan, dan membuat saya mengingat-ingat, apakah ada perbuatan yang tidak menyenangkan yang saya lakukan? Ternyata iya, ada. Tapi lain kali saja saya akan menceritakannya.

Saya belajar, jika kamu senang dan bahagia, perjalananmu akan menyenangkan.

Saya bahkan senang ketika tertinggal pesawat. Adrenalin ketika menyeret koper sampai depan pintu pesawat yang tertutup.

Saya menyukai proses yang dibutuhkan ketika akan naik dan turun pesawat. Check-in, antri di periksa, antri menaikkan printilan bawaan saya. Saya nyaman dengan antrian. Melihat bagaimana perilaku orang-perorang. Menebak-nebak akan kemana mereka? Kemana mereka? Apakah mereka bahagia dengan penerbangan ini? Apakah mereka sedang merana?

Saat tiba giliran saya di depan petugas konter check-in, saya akan tampil dengan senyuman ramah dan bahagia. siapa tau beruntung bisa mendapatkan layanan paripurna.

Saya suka dengan ketepatan waktu penerbangan. Berasa jadi eksekutip muda yang sibuk dengan jadwal pertemuan. Membawa ransel atau travelbag hasil diskonan berisi laptop, perlengkapan bayi atau cemilan. Karena saat terdengar panggilan, lalu melangkah dalam antrian, hati saya bersorak, Yeyy! saya bepergian.

Saya bahkan senang-senang saja saat harus menggelandang di bandara. Entah itu karena kekacauan maskapai atau karena cuaca atau saat listrik padam di Adi Sutjipto pada suatu masa. Saya senang-senang saja kala harus menanti selama 6 jam di Suvarnabhumi karena pesawat dari Indonesia mengalami kendala. Saya jadi punya waktu berjam-jam mengelilingi bandara sebesar itu dan melihat secara nyata barang branded bebas pajak yang selama ini cuma saya lihat dari majalah bekas di salon langganan. Meskipun di akhir cerita saya tertinggal pesawat lanjutan ke Jogja. Tetapi tertinggal pesawat lanjutan adalah harga yang sebanding dengan kebahagiaan berkeliling bandara seluas Suvarnabhumi pada masanya.

Menggelandang di bandara membuat adrenalin saya mengalir deras. Tidur sejenak menanti masa berkurung mukena di pojok mushola sambil mengepit dompet dan handphone di dekat dada. Berbincang dengan sesiapa meski tetap waspada dengan kata-kata hipnosis penuh mantra.

Saya tentu pernah merasakan takut ketika badai, turbulen, atau ketika harus landing di runway pendek Adi Sutjipto. Tapi bayangan buruk dan ketakutan itu saya butuhkan sebagai pengingat bahwa umur saya bisa saja berakhir saat itu, pengingat mujarab supaya saya tetap rajin sholat lima waktu.

Hanya satu yang tidak saya sukai jika harus naik pesawat, yaitu ketika saya harus membayar tagihan tiket.

Banjarbaru, 29 November 2020

Yuni Nofitasari

======================================

Tugas Praktik Menulis ke-4 kelas IAD

menandai kembalinya saya untuk menuliskan ide-ide ke platform daring setelah hibernasi selama kurang lebih 4 tahun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar